Sabtu, 11 Juni 2011

(Selingkuh) - Pembantu Nikmat

Hari ini seperti biasa aku
perhatikan istriku sedang
bersiap untuk berangkat kerja,
sementara aku masih berbaring.
Istriku memang harus selalu
berangkat pagi, tidak seperti
pekerjaanku yang tidak
mengharuskan berangkat pagi.
Tidak lama kemudian aku
perhatikan dia berkata sesuatu,
pamitan, dan perlahan
meninggalkan rumah. Sementara
aku bersiap kembali untuk tidur,
kembali kudengar suara orang
mendekat ke arah pintu kamar.
Tetapi langsung aku teringat
pasti pembantu rumah tangga
kami, Lia, yang memang
mendapat perintah dari istriku
untuk bersih-bersih rumah
sepagi mungkin, sebelum
mengerjakan yang lain.
Lia ini baru berumur 17 tahun,
dengan tinggi badan yang
termasuk pendek namun bentuk
tubuhnya sintal. Aku hanya
perhatikan hal tersebut selama
ini, dan tidak pernah berfikir
macam-macam sebelumnya. Tidak
berapa lama dari suara langkah
yang kudengar tadi, Lia pun
mulai tampak di pintu masuk,
setelah mengetuk dan meminta
izin sebentar, ia pun masuk
sambil membawa sapu tanpa
menunggu izin dariku. Baru pagi
ini aku perhatikan pembantuku
ini, not bad at all.
Karena aku selalu tidur hanya
dengan bercelana dalam, maka
aku pikir akan ganggu dia.
Dengan masih pura-pura tidur,
aku menggeliat ke samping
hingga selimutku pun tersingkap.
Sehingga bagian bawahku sudah
tidak tertutup apapun,
sementara karena bangun tidur
dan belum sempat ke WC,
kemaluanku sudah mengeras
sejak tadi. Dengan sedikit
mengintip, Lia berkali-kali melirik
kearah celana dalamku, yang
didalamnya terdapat‘Mr.
Penny’ku yang sudah membesar
dan mengeras. Namun aku
perhatikan dia masih terus
mengerjakan pekerjaannya
sambil tidak menunjukkan
perasaannya.
Setelah itu dia selesai dengan
pekerjaannya dan keluar dari
kamar tidur. Akupun bangun ke
kamar mandi untuk buang air
kecil. Seperti biasa aku lepas
celana dalamku dan kupakai
handuk lalu keluar mencari
sesuatu untuk minum. Kulihat Lia
masih meneruskan pekerjaannya
di ruang lain, aku rebahkan
diriku di sofa depan TV ruang
keluarga kami. Sejenak terlintas
untuk membuat Lia lebih dalam
menguasai‘pelajarannya’. Lalu
aku berfikir, kira-kira topik apa
yang akan aku pakai, karena
selama ini aku jarang sekali
bicara dengan dia.
Sambil aku perhatikan Lia yang
sedang sibuk, aku mengingat-
ingat yang pernah istriku
katakan soal dia. Akhirnya aku
ingat bahwa dia memiliki masalah
bau badan. Dengan tersenyum
gembira aku panggil dia dan
kuminta untuk berhenti
melakukan aktivitasnya
sebentar. Lia pun mendekat dan
mengambil posisi duduk di bawah.
Duduknya sangat sopan, jadi
tidak satupun celah untuk
melihat‘perangkatnya’. Aku mulai
saja pembicaraanku dengannya,
dengan menanyakan apakah
benar dia mempunyai masalah BB.
Dengan alasan tamu dan relasiku
akan banyak yang datang aku
memintannya untuk lebih
perhatian dengan masalahnya.
Dia hanya mengiyakan
permintaanku, dan mulai berani
mengatakan satu dua hal.
Semakin baik pikirku. Masih
dengan topik yang sama, akupun
mengajaknya ngobrol sejenak,
dan mendapat respon yang baik.
Sementara dudukku dengan
sengaja aku buat seolah tanpa
sengaja, sehingga‘Mr. Penny’ku
yang hanya tertutup handuk
akan terlihat sepenuhnya oleh
Lia. Aku perhatikan matanya
berkali-kali melirik ke arah‘Mr.
Penny’ku, yang secara tidak
sengaja mulai bangun. Lalu aku
tanyakan apa boleh mencium BB-
nya, sebuah pertanyaan yang
cukup mengagetkannya, selain
karena pertanyaan itu cukup
berani, juga karena matanya
yang sedang melirik ke ‘anu’ ku.
Untuk menutupi rasa malunya,
diapun hanya mengangguk
membolehkan.
Aku minta dia untuk mendekat,
dan dari jarak sekian centimeter,
aku mencoba mencium BBnya.
Akalku mulai berjalan, aku
katakan tidak begitu jelas, maka
dengan alasan pasti sumbernya
dari ketiaknya, maka aku minta
dia untuk menunjukkan
ketiaknya. Sejenak dia terdiam,
mungkin dipikirnya, apakah ini
harus atau tidak. Aku kembali
menyadarkannya dengan
memintanya kembali
memperlihatkan ketiaknya.
Melihat tatapannya aku mengerti
bahwa dia tidak tahu apa yang
harus dikerjakannya untuk
memenuhi permintaanku. Maka
aku dengan cepat menuntunnya
agar dia tidak bingung akan apa
yang harus dilakukan. Dan aku
katakan, naikkan saja baju
kaosnya sehingga aku dapat
memeriksa ketiaknya, dan aku
katakan jangan malu, toh tidak
ada siapapun di rumah.
Perlahan diangkatnya baju
kaosnya dan akupun bersorak
gembira. Perlahan kulit putih
mulusnya mulai terlihat, dan lalu
dadanya yang cukup besar
tertutup BH sempit pun mulai
terlihat. ‘Mr. Penny’ku langsung
membesar dan mengeras penuh.
Setelah ketiaknya terlihat,
akupun memberi perhatian,
kudekatkan hidungku terlihat
bulu ketiaknya cukup lebat.
Setelah dekat aku hirup udara
sekitar ketiak, baunya sangat
merangsang, dan akupun
semakin mendekatkan hidungku
sehingga menyentuh bulu
ketiaknya. Sedikit kaget, dia
menjauh dan menurunkan
bajunya. Lalu aku katakan bahwa
dia harus memotong bulu
ketiaknya jika ingin BBnya hilang.
Dia mengangguk dan berjanji
akan mencukurnya. Sejenak aku
perhatikan wajahnya yang
tampak beda, merah padam. Aku
heran kenapa, setelah aku
perhatikan seksama, matanya
sesekali melirik ke arah‘Mr.
Penny’ku. Ya ampun, handukku
tersingkap dan ‘Mr. Penny’ku
yang membesar dan memanjang,
terpampang jelas di depan
matanya. Pasti tersingkap
sewaktu dia kaget tadi.
Lalu kuminta Lia kembali
mendekat, dan aku katakan
bahwa ini wajar terjadi, karena
aku sedang berdekatan dengan
perempuan, apalagi sedang
melihat yang berada di dalam
bajunya. Dengan malu dia
tertunduk. Lalu aku lanjutkan,
entah pikiran dari mana, tiba-
tiba aku memuji badannya, aku
katakan bahwa badannya bagus
dan putih. Aku juga mengatakan
bahwa bibirnya bagus. Entah
keberanian dari mana, aku
bangun sambil memegang
tangannya, dan memintanya
berdiri berhadapan. Sejenak kami
berpandangan, dan aku mulai
mendekatkan bibirku pada
bibirnya. Kami berciuman cukup
lama dan sangat merangsang.
Aku perhatikan dia begitu
bernafsu, mungkin sudah sejak
tadi pagi dia terangsang.
Tanganku yang sudah sejak tadi
berada di dadanya, kuarahkan
menuju tangannya, dan
menariknya menuju sofa.
Kutidurkan Lia dan menindihnya
dari pinggul ke bawah,
sementara tanganku berusaha
membuka bajunya. Beberapa
saat nampaknya kesadaran Lia
bangkit dan melakukan
perlawanan, sehingga kuhentikan
sambil membuka bajunya, dan
aku kembali mencium bibirnya
hingga lama sekali. Begitu Lia
sudah kembali mendesah,
perlahan tangan yang sejak tadi
kugunakan untuk meremas
dadanya, kuarahkan ke belakang
untuk membuka kaitan BHnya.
Hingga terpampanglah buah
dadanya yang berukuran cukup
besar dengan puting besar
coklat muda.
Lumatan mulutku pada buah
dadanya membuatnya sudah
benar-benar terangsang,
sehingga dengan mudah
tanganku menuju ke arah
‘Veggy’nya yang masih bercelana
dalam, sedang tanganku yang
satunya membawa tangannya
untuk memegang‘Mr. Penny’ku.
Secara otomatis tangannya
meremas dan mulai naik turun
pada‘Mr. Penny’ku. Sementara
aku sibuk menaikkan roknya
hingga celana dalamnya terlihat
seluruhnya. Dan dengan
menyibakkan celana dalamnya,
‘Veggy’nya yang basah dan
sempit itupun sudah menjadi
mainan bagi jari-jariku. Namun
tidak berapa lama, kurasakan
pahanya menjepit tanganku, dan
tangannya memegang tanganku
agar tidak bergerak dan tidak
meninggalkan ‘Veggy’nya.
Kusadari Lia mengalami orgasme
yang pertama
Setelah mereda, kupeluk erat
badannya dan berusaha tetap
merangsangnya, dan benar saja,
bebrapa saat kemudian, nampak
dirinya sudah kembali bergairah,
hanya saja kali ini lebih berani.
Lia membuka celana dalamnya
sendiri, lalu berusaha mencari
dan memegang‘Mr. Penny’ku.
Sementara secara bergantian
bibir dan buah dadanya aku
kulum. Dan dengan tanganku,
‘Veggy’nya kuelus-elus lagi mulai
dari bulu-bulu halusnya, bibir
‘Veggy’nya, hingga ke dalam, dan
daerah sekitar lubang
pantatnya. Sensasinya pasti
sungguh besar, sehingga tanpa
sadar Lia menggelinjang-gelinjang
keras. Kesempatan ini tidak aku
sia-siakan, bibirku pindah menuju
bibirnya, sementara ‘Mr.
Penny’ku ku dekatkan ke bibir
‘Veggy’nya, ku elus-elus
sebentar, lalu aku mulai selipkan
pada bibir‘Veggy’ pembantuku
ini.
Sudah seperti layaknya suami
dan istri, kami seakan lupa
dengan segalanya, Lia bahkan
mengerang minta‘Mr. Penny’ku
segera masuk. Karena basahnya
‘Veggy’ Lia, dengan mudah ‘Mr.
Penny’ku masuk sedikit demi
sedikit. Sebagai wanita yang
baru pertama kali berhubungan
badan, terasa sekali otot‘Veggy’
Lia menegang dan mempersulit
‘Mr. Penny’ku untuk masuk.
Dengan membuka pahanya lebih
lebar dan mendiamkan sejenak
‘Mr. Penny’ku, terasa Lia agak
rileks. Ketika itu, aku mulai
memaju mundurkan‘Mr. Penny’ku
walau hanya bagian kepalanya
saja. Namun sedikit demi sedikit
‘Mr. Penny’ku masuk dan
akhirnya seluruh batangku
masuk ke dalam‘Veggy’nya.
Setelah aku diamkan sejenak,
aku mulai bergerak keluar dan
masuk, dan sempat kulihat cairan
berwarna merah muda, tanda
keperawanannya telah
kudapatkan.
Erangan nikmat kami berdua,
terdengar sangat romantis saat
itu. Lia belajar sangat cepat, dan
‘Veggy’nya terasa meremas-
remas ‘Mr. Penny’ku dengan
sangat lembut. Hingga belasan
menit kami bersetubuh dengan
gaya yang sama, karena ku pikir
nanti saja mengajarkannya gaya
lain.‘Mr. Penny’ku sudan
berdenyut-denyut tanda tak
lama lagi aku akan ejakulasi. Aku
tanyakan pada Lia, apakah dia
juga sudah hampir orgasme. Lia
mengangguk pelan sambil
terrsenyum. Dengan aba-aba
dari ku, aku mengajaknya untuk
orgasme bersama. Lia semakin
keras mengelinjang, hingga
akhinya aku katakan kita keluar
sama-sama. Beberapa saat
kemudian aku rasakan air maniku
muncrat dengan derasnya
didalam‘Veggy’nya yang juga
menegang karena orgasme. Lia
memeluk badanku dengan erat,
lupa bahwa aku adalah
majikannya, dan akupun
melupakan bahwa Lia adalah
pembantuku, aku memeluk dan
menciumnya dengan erat.
Dengan muka sedikit malu, Lia
tetap tertidur disampingku di
sofa tersebut. Kuperhatikan
dengan lega tidak ada
penyesalan di wajahnya, tetapi
kulihat kepuasan. Aku katakan
padanya bahwa permainannya
sungguh hebat, dan
mengajaknya untuk mengulang
jika dia mau, dan dijawab dengan
anggukkan kecil dan senyum.
Sejak saat itu, kami sering
melakukan jika istriku sedang
tidak ada. Di kamar tidurku,
kamar tidurnya, kamar mandi,
ruang tamu, ruang makan,
dapur, garasi, bahkan dalam
mobil.
Lia ikut bersama kami hingga
tahunan, sampai suatu saat dia
dipanggil oleh orang tuanya
untuk dikawinkan. Ia dan aku
saling melepas dengan berat hati.
Namun sekali waktu Lia datang
kerumahku untuk khusus
bertemu denganku, setelah
sebelumnya menelponku untuk
janjian. Anak satu-satunyapun
menurutnya adalah anakku,
karena suaminya mandul. Tapi
tidak ada yang pernah tahu..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar