Kamis, 26 Mei 2011

Paul Scholes, Si Wajah Pucat Yang Pemalu

Ketika David
Beckham untuk pertama kalinya
berlatih dengan pemain Real Madrid,
pertanyaan pertama yang diajukan
rekan barunya bukan bagaimana
rasanya pindah ke Spanyol. Bukan
pula akan tinggal didaerah mana di
Madrid. Tentu juga bukan tentang
istrinya, Victoria alias Posh Spice.
Tetapi, "Bagaimana rasanya bermain
dalam satu tim dengan Paul
Scholes?"
Si Wajah Pucat Paul Scholes
Ya. Paul Scholes. Si pucat yang
merupakan gelandang menyerang
dari Manchester United. Walau
penggemar sepakbola sering
meremehkan pemain ini, tetapi
dalam khazanah para jawara
sepakbola di Eropa, namanya
memang diunjung tinggi.
Bahkan sang maestro pemain
tengah Eropa Zinedine Zidane
menyebutnya sebagai pemain
tengah terbaik untuk generasinya.
Belum lama ini dalam sebuah
wawancara ia mengaku menyesal
tidak pernah berkesempatan
bermain dengan Scholes. Maklum
walau klub-klub besar Eropa tertarik,
Paul Scholes tidak pernah ingin
bermain untuk klub lain kecuali
Manchester United.
Paul Scholes adalah salah satu
anggota generasi emas Man United
tahun 90-an bersama David
Beckham, Ryan Giggs, Nicky Butt,
dan Neville bersaudara (Baca:Kisah
Pemain Class of 92). Tetapi
dibandingkan kelima rekan
angkatannya, profil Scholes seperti
lepas dari radar.
Mungkin persoalannya adalah
pribadi Scholes yang sangat pemalu
dan secara sengaja menutup diri
dari sorotan. Ia sangat jarang
memberikan wawancara kepada
wartawan, tidak pernah datang ke
pesta-pesta selebriti, sangat
pendiam bahkan dengan teman-
teman akrabnya. Konon selama
hampir dua puluh tahun
bersepakbola ia baru empat kali
memberi wawancara eksklusif.
Scholes bisa dikatakan satu dari
sedikit pemain bola yang tidak
pernah mengekpresikan diri kecuali
di dalam lapangan. Setelah Eric
Cantona mundur dialah denyut
yang menjalin permainan lini
pertahanan ke garis penyerangan
Man United. Permainan satu-duanya
diakui para pesepakbola sebagai
yang terbaik di Eropa. Umpan-
umpannya baik yang menelusur
tanah maupun lambung sama
akuratnya dan mematikan.
Imajinasinya dalam memberi
umpan tidak lumrah.
Yang luar biasa, menurut Ruud
Gullit, adalah Scholes bisa
melakukan semua itu dengan sangat
sederhana. Sehingga yang ia
lakukan seolah bukanlah sesuatu
yang luar biasa. Itulah sebabnya,
masih menurut Gullit, penonton
melihatnya sebagai biasa-biasa saja,
tetapi rekan maupun lawan sering
terbengong-bengong.
Bukan sekadar menjalin serangan, ia
sendiri seorang penyerang
berbahaya baik dengan kaki
maupun kepalanya. Ia mampu
mencetak gol spektakuler dengan
tendangan jarak jauhnya yang
terkenal keras dan akurat. Tak heran
kalau ia sudah mencetak 150 gol
untuk Man United (Baca:Kisah 150
Gol Paul Scholes di Manchester
United). Cukup bagus untuk
seorang gelandang.
Menyebut sukses Man United usai
Cantona, orang akan menyebut
Beckham, Giggs, Keane, Cole, Yorke,
Solksjaer dan nama-nama besar
lainnya. Tetapi cabutlah Paul Scholes
dari tim Man United itu maka semua
pemain bintang itu akan
mengatakan jangan. Itulah
sebabnya semua pemain boleh silih
berganti tetapi Paul Scholes tetap
menjadi pantek Man United.
Namun seperti telah dikatakan, ia
bisa tampil sangat hebat di lapangan
tetapi begitu pertandingan usai dan
wartawan berebut ingin
mewancarainya, ia menghilang dari
pencarian. Orang tidak pernah tahu
apa yang dipikirkan maupun
pandangan-pandangannya
mengenai berbagai hal menyangkut
sepakbola.
Misalnya orang sangat ingin tahu
mengapa ia memutuskan untuk
mundur dari tim nasional Inggris
lima tahun lalu. Isu yang beredar ia
tidak suka dengan gaya permainan
yang ditampilkan Sven Goran
Eriksson dan bosan dimainkan di
posisi yang bukan menjadi posisi
terbaiknya. Tetapi ia tak pernah
mengatakan apapun sama sekali.
Tidak menjelekkan, tidak mengritik,
tidak mencela.
Steve Mclaren yang menggantikan
Sven, membuang David Beckham
tetapi dua kali membujuk Scholes
untuk kembali ke tim nasional. Dua
kali pula Scholes menolak dengan
alasan ingin lebih meluangkan waktu
untuk keluarga.
Bahkan diusianya yang ke-35, ketika
kemampuannya sudah menurun
terutama staminanya untuk
menusuk ke kotak penalti, Fabio
Capello membujuk untuk ikut ke
Piala Dunia Afrika Selatan. Scholes
menolak dengan alasan, salah
satunya, tidak enak dengan pemain
lain yang sudah berjuang untuk
Inggris selama babak penyisihan.
Belum lama lalu ia mengaku
menyesal tidak memenuhi
panggilan itu. Itulah sebabnya kini
terbetik berita Capello ingin
memanggilnya untuk penyisihan
Piala Eropa. Padahal pada saat
bersamaan ia menutup pintu untuk
pemain seangkatan Scholes dengan
profil terbesar di Inggris, David
Beckham dengan alasan sudah
terlalu tua.
Sentimen Capello untuk pemain tua
ini tidak luar biasa. Ambil misal
pelatih jenial Arsenal Arsene
Wenger. Belum lama ini ia masih
mengatakan, kalau boleh memilih
semua pemain Liga Primer yang
ada, maka Scholes lah pemain
pertama yang ada di susunan
pemainnya. Carlo Ancelotti juga
menyampaikan sentimen yang
sama. Mungkin ini sudah agak
usang karena dikatakan ketika ia
masih memegang AC Milan.
Anak asuhnya saat itu akan bertemu
dengan Man United di Piala
Champions. Di hadapan wartawan
ia mengatakan tidak satupun pemain
Man United akan masuk ke 11
pemain utama Milan. Padahal disitu
ada Ryan Giggs, Cristiano Ronaldo,
Wayne Rooney dan sejumlah nama
lain. Tetapi Ancelotti kemudian
terdiam sebentar lalu berkata,
"Yahhhh… kecuali Paul Scholes".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar